Cerpen : Ternyata Aku Hanya Manusia Biasa

Aku memang manusia biasa yang tak sempurna yang kadang salah…

Cinta adalah kata aneh yang harusnya tidak pernah aku ucapkan. Aku hanya manusia biasa, seorang gadis dengan rambut tergerai pajang seperti iklan sampo. Tapi tetap saja aku hanya gadis dari daerah ngawi yang jauh dari peradapan kota Surabaya. Dari SMA aku hanya ingin kuliah di tempat ini, ITS adalah sebuah tempat yang bagiku sangat prestise, dalam keilmuan dan pengembangan diri. Aku harus berjam-jam menghabiskan diskusiku dikelas IPA bersama tim diskusi yang aku bentuk. Boleh jadi aku kalah dalam pemilihan ketua OSIS, tapi tidak akan aku berdiam dengan kerendahan. Aku gadis tangguh dengan segudang kepandaian. Banyak prestasi yang aku raih, toh semua adalah hasil kerja kerasku selama ini. Tapi… rasanya semua itu sirna, pujian dan sapaan hangat teman-teman SMA dulu, yang sangat kagum dengan prestasiku kini teranulir ketika aku berhadapan dengan fenomena aneh di lingkungan civitas akademi di keputih ini. Heterogen menjadikan komunal menjadi lebih mirip perkelahian idiologi yang memuncak menjadi sentimen dalam setiap kepentingan. Dan tentu saja sangat wajar jika banyak yang mengatakan jika linkungan kampus ITS penuh dengan aroma sampah Surabaya. Harusnya ITS tidak dibangun di daerah seperti ini sayang sekali.

“Kamu masuk aja ITS Nung, akan banyak hal yang akan kamu dapatkan” Pak Bun menasehatiku, aku dengan kepercayaan diriku menjadi sailermoon dengan kekuatan bulannya. Aku terhebat dalam strataku.

“Ingat Nung, tidak semua langit itu adalah yang paling atas, masih ada tingkatan lain, makanya kenapa Nabi di mi’rajkan sampai ke langit sap tujuh dan ada beberapa Nabi dengan tingkatan pula berada disitu”. Mbak Dian menasehatiku. Entah itu sebuah pertanda atau hanya sekedar ucapan kosong belaka. Aku sendiri tidak begitu tertarik dengan nilai transendental yan bagiku kurang ilmiah.

Aku masih ingat ketika aku harus berbenturan dengan kelompok pendukung ide transendental, anak-anak Rohis Masjid sekolahan. Kelompok diskusiku harus bertarung pemikiran dan strategi untuk menggolkan aku sebagai ketua OSIS. Dan kegagalanku bukan karena aku tidak mampu, tapi… karena kesempatan yang belum menghampiriku. Tentu salah satu kekalahanku adalah tidak ada dukungan dari anak-anak Rohis, mereka lebih suka memilih Faiz. Ah… dengan alasan apapun, kesholehan atau imam adalah laki-laki, tapi bagiku nilai transandent adalah nilai berbagai alasan untuk kepentingan kekuasan, semua bullsit, tidak ilmiah.

Aku adalah gadis pandai dan energik dengan kemampuan luar biasa, tapi aku hanya manusia. Ya aku hanya manusia biasa, yang kadang kala lelah berjalan dengan komunitas diskusiku di ITS ini. Banyak sudah aku lalui, bahkan lebih banyak aku tinggalkan kuliah dan pekerjaan praktikum hanya untuk memuaskan nafsu diskusiku dan oranisasiku. Atau pendampingan bersama LBH yang aku bekerja disana.

Dimanapun, ada saja tantangannya, dan crita SMA akan terulang. Entah sejarah yang menyukai aku atau akuyang akan menciptakan sejarah, bagiku keduanya adalah kemungkinan. Kali ini anak-anak rohis Fakultas yang menjadi rival pemilihan BEM fakultas Teknik Perkapalan. Gila.. mereka menjadikan ini jargon gender lagi. Apakah kepemimpinan wanita adalah haram bagi mereka? Saya pikir ini adalah pembodohan politik bagi masyarakat dan mahasiswa.

Aku banting selebaran ini keras-keras di depan meja sekretariat Rohis Fakultas. Banyak mata memandang, dan sepeti terhenti sejenak dunia ini. Semua mata tertuju padaku. Entah setan mana yang membuat aku harus berani memasuki ruang musuh besarku ini. Aku tak tahan dengan kampanye hitam mereka.

‘apa-apaan ini? Kalian jika ingin bersaing yang fer dong…!!!” Aku coba menahan gejolah letupan adrenalin yang begitu besar ingin menyambarku. Sungguh ini adalah puncak dari kemarahanku. Mereka menukil beberapa ayat Al Qur’an da Hadist nabi sebagai dasar perjuangan kampanye itu.

‘Jangan bawa-bawa agama napa ha…!!!”

“Ada apa ni… mbak.. datang-datang ko marah-marang??” seorang dari mereka menghampiriku, laki-laki tinggi dengan jenggot tipis, wajah…. hemmm… ehmm.. maksudku ya rumayan lah. Tapi masa bodoh dengan kata rumayan atau kata sedikit cakep. Yang jelas aku muak dengan mereka.

“Ada apa mbak..???” laki-laki itu bertanya lagi, aku hanya berkacak pinggang, sepersekian detik aku harus menahap degup jantungku, adrenalin marah, dan tertangkapnya hatiku oleh ruang rasa yang tidak pernah aku berikan padanya.

“Sudah lah…. lihat ini… kalian tulis apa? Ini namanya kampanye hitam tau..!!!, asal tahu saja ya… jangan bawa-bawa agama dalam kampanye kali ini!!”. Aku meninggalkan sekretariat Rohis dengan muka merah, harusnya seperti delima matang yang merah ranum, tapi entah setan telah membuat aku menjadi merah semerah hell boy terbakar tanduknya.

“Sabar Nung, perjuangan emang ada rintangannya, tapi kamu tak perlu kekanakan seperti tadi, itu memalukan”. Devi menasehatiku, aku teguk frestea, ruangan perpustakaan ini seakan bertambah luas, entah seperti hatiku yang mulai meluas, melunak dengan perkataan anak Fisika yang suka psikologi ini.

“Aku besak pulang ke Ngawi Dev, Ibu kemarin telpon, katanya Bapak kangen denganku, sudah empat bula ini aku tidak pulang”. Devi tersenyum, menganguk, memegang tanganku. “Sudah semestinya”.

Gadis ini beda denganku, ucapannya enak di dengar an pengertia sebagai sahabat. Sangat kontras denganku yang jauh dari nilai feminin dan angun. Aku yang sarkatis, kritis dan suka mendebat. Kadang pemahaman kami berbeda, sejak dia mulai aktif di pengajian rutin minggu pagi di Islamic centre dan sebulan ini  berjilbab. Pada awal dia berjilbab aku sempat berdebat keras dengan dia, dan hatiku sangat terluka. Seperti ada tembok besar menghalangi aku dengannya. Aku mungkin bisa menerima sebuah perbedaan, karena aku berfaham inklusif. Tapi ketika berhadapan dengan transendental seperti ini, aku hanya bisa pesimis dan apatis. Transendental hanya kedok saja. Entah itu karena dendam lamaku ketika di SMA atau fenomena bola salju selama ini aku bergaul dengan orang-orang feminisme. Tapi yang jelas aku meresa ada batas. Tetapi entah, karena hatiku yang kadang mudah tersentuh dengan right value atau karena kau menemukan ketenangan. Bersahabat dengan Devi membuatku nyaman, ya nyaman, seperti hujan sore hari yang sejuk. Atau… seperti siang kemarin ketika aku di ruang Rohis, melihat sesosok pemuda tinggi besar, berwajah bersih dengan jenggot tipis di dagunya? Hem… aku tidak mau berandai-andai seperti para pecandu agama. Aku adalah seorang feminisme yang kuat dengan segala kemerdekaanku menjadi wanita.

Sore itu aku bersandar di cagak rumahku, rasanya letih sekali. Ayah masih tertidur, pulas di tempat tidurnya. Baru saja aku memijiti kakinya. “Sudah dibawa kedokter to buk Bapak?” Ibu menoleh padaku. “Iya Nung, kemarin dianter Mbakmu dengan suaminya ke Mantri”. Jawab itu singkat, beliau membersihkan meja makan, membawanya ke dapur. Ibu… dari aku kecil sampai sekarang aktifitasnya tetap sama, dapur, sumur kasur. Hem…. aku rasanya ingin bertanya, apa beliau tidak jenuh? Mungkin ini awal pemberontakanku pada kekakuan dan kejumudan wanita. Dari dulu aku ingin merubah keadaan. Menjadikan wanita lebih berdaya.

“Kamu sendiri gimana Nung? Apa tidak terganggu kuliahmu dengan bekerja di tempat kerjamu sekarang?”

‘Tidak, Nung bisa bagi waktu, toh pekerjaanku juga berkaitan dengan mahasiswa dan masyarakat ko bu? Pendampingan hukum”. Ibu menoleh. “Hukum? Apa kamu yakin? Kamu anak teknik perkapalan ko kerja di Hukum Nung?”

“Bisa ko bu. Itu dunia Nung dan Nung dapat gaji dari situ. Dan semoga tidak memberatkan Bapak dan Ibu lagi”. Ibu tersenyum, itu senyum yang sangat aku rindukan beberapa bulan ini. Ketulusan, ini hanya aku dapatkan pada diri Ibu dan Devi sahabat kosku.

DUA BULAN KEMUDIAN

“Nung… ayah ingin kamu menemui Pak dhe kamu Malang. Ambilah cuti satu semester. Dan tinggallah di pesantren Pak dhe kamu, untuk belajar agama. Ayah merasa sedih selama ini tidak mengajarkan agama dengan baik padamu”.

Aku tak bisa berkata lagi. Bapak yang berwasiat itu. Dan aku tak bisa berkata lagi. Semua impian karier mahasiswaku aku sudahi. Bagiku wasiat bapak sebelum meninggal harus aku laksanakan, aku ingin membahagiakan Bapak disaat terakhirnya. Walau sangat bertentangan dengan diriku yang anti terhadap nilai tansendent. Hanya satu yang aku ingat dan membekas, wajah pemuda di sekretariat Rohis itu. Betapa sejuk dan enggan enyah dari hatiku. Aku memang seorang penganut feminisme, tapi aku juga manusia biasa. Yang bisa manangis, merasa, mencinta dan tentu bisa berubah. Aku hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah.

Dan akhirnya aku berangkat dengan ketekatan hati. Aku menuju terminal yang ramai dengan kendaraan bermotor. Aku harus bergegas menyeberang sebelum bis yang di depan keburu berangkat. Tinnn tinnn…. awas mbak….. brak… duang…. creng… gruak…… sebuah motor dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhku yang kecil.

Aku tersungkur, entah apa yang aku rasakan, semua terasa aneh. Hanya beberapa ucapan ayah yang terngiang di telingaku, cerita waktu aku masih kecil dahulu, tentang Nabi, tenatang sahabat nabi dan beberapa kisah teladan muslim. beberapa kisah kembali terulang, gambar-gambar aneh membawangiku, aktifitasku, marahku, sedihku dan cinta diruang hatiku, tentang Devi tentang Ibu, tentang ayah dan seorang laki-laki dengan jenggot tipis di dagunya. Kemudia tidak ada suara lagi, tidak ada gambar, tidak ada orang, yang ada hanya gelap. Mungkin aku sudah mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s