Kemampuan Jin

Umat Islam percaya bahwa Allah menganugerahkan kepada jin kemampuan yang berbeda dengan manusia. Tetapi, itu bukan berarti bahwa jin itu lebih mulia dari manusia, atau berarti jin tidak pantas sujud kepada Adam.

Beberapa kelebihan jin diimbangiol beberapa kelebihan manusia yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan daya-daya yang dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga pada akhirnya manusia dapat unggul atas jin.

Mengarungi Angkasa
Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 9).

Maksudnya, dahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. mereka dengan mudah naik ke langit dan dengan tenang mendengarkan pembicaraan para malaikat, tetapi kini walaupun masih memiliki kemampuan, tetapi upaya menuju ke langit dan ketenangan mendengar pembicaraan itu diusik dengan semburan api.

“Kami (Allah) menjaganya (langit) dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 17–18).

Kalau tadinya mereka dengan leluasa mendengar apa saja, kemudian menginformasikannya kepada tukang-tukang tenung dan peramal yang tuntuk kepada mereka, maka sejak diutusnya Nabi saw. kemampuan tersebut sudah terbatas, sehingga sejak itu mereka hanya dapat mencuri-curi pendengaran. Dengan demikian, kalaupun mereka dapat memberi informasi kepada kepada rekan-rekannya manusia atau jin, maka informasi itu sepotong-potong, bahkan keliru. Tidak jarang para peramal yang berhubungan dengan jin membumbui dan menambah-nambah informasi jin yang setengah-setengah itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” (Asy-Syuara’: 221–222).

Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Apabila Allah menetapkan suatu ketetapan, para malaikat merendahkan sayap mereka pertanda tunduk kepada ketetapan-Nya, bagaikan rantai yang menyentuh batu yang halus serta takut kepada-Nya, maka apabila ketakutan mereka telah reda, (sebagian) mereka bertanya kepada sebagian yang lain, ‘Apa yang disampaikan Tuhan?’ Maka, yang ini menjawab kepada yang bertanya, ‘Allah menetapkan yang hak, Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’ (sambil menyampaikan apa yang ditetapkan Allah). Ketika itu para jin yang mencuri-curi pendengaran dalam keadaan seperti ini (perawi hadis ini menunjukkan tangan kanannya dengan merenggangkan jari-jarinya satu di atas yang lain). Ketika itu boleh jadi yang mencuri pendengaran terkena semburan api sehingga membakarnya, dan boleh jadi juga ia luput dari semburannya, sehingga ia menyampaikannya kepada jin yang ada di bawahnyadan akhirnya sampai ke bumi dan diterima oleh tukang sihir atau tenung, lalu ia berbohong seratus kebohongan, dan dia dipercaya. Orang-orang yang mendengar dan mempercayainya berkata, ‘Bukankah pada hari ini dan itu ia menyampaikan kepada kita, ini dan itu, dan ternyata benar’ Yakni, benar menyangkut apa yang didengar dari langit.” (HR Bukhari melalui sahabat Nabi, Abu Hurairah).

Hadis serupa diriwayatkan juga oleh Imam Muslim melalui Ibnu Asbbas, dia berkata, Aku diberitakan oleh salah seorang sahabat Nabi saw. dari kelompok Anshar (penduduk Madinah) bahwa pada suatu malam mereka duduk bersama Nabi, tiba-tiba ada cahaya bintang menyembur. Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang kalian duga pada masa jahiliah bila terjadi semburan demikian?” Mereka menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Kami tadinya berkata (percaya) bahwa pada malam itu lahir atau wafat seorang yang agung. Rasulullah saw. menjawab, “Ia tidak menyembur karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Tuhan kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi nama-Nya apabila menetapkan sesuatu para malaikat pemikul Arsy (singgasana Ilahi) bertasbih, kemudian penghuni langit di bawah mereka juga bertasbih, hingga sampai tasbih kepada penduduk langit dunia. Mereka yang berada di bawah para malaikat pemikul Arsy bertanya, ‘Apa yang difirmankan Tuhan?’ Maka, mereka menyampaikannya apa yang difirmankan-Nya itu. Penduduk langit pun saling bertanya dan memberitakan hingga sampai kepada penghuni langit dunia. Ketika itu jin mencuri-curi pendengaran, lalu menyampaikannya kepada rekan-rekan mereka. Maka, apa yang mereka sampaikan sebagaimana yang mereka dengar adalah benar, tetapi mereka mencampurinya dengan kebohongan dan menambah-nambahnya.”

Berdasarkan informasi di atas, jin mempunyai kemampuan untuk menembus angkasa dan mendengar percakapan penghuni-penghuninya dan bahwa kini langit dijaga dan ada semburan api yang dapat membakar mereka jika mendekat.

Pada zaman modern sekarang ini mungkin banyak yang bertanya tentang semburan api tersebut, karena di sekolah kita sekarang sudah mengenal mata pelajaran tentang planet dan tata surya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Quthub (1903–1966) mengungkapkan, “Persoalan penjagaan langit, penyemburan setan, dan semacamnya bukan persoalan kita. Apalagi, bukankah tudak mustahil–dalam peredarannya itu–ia menyemburkan panah-panah api ke arah setan-setan jin, dan bukan pulakah peredaran seluruh planet–yang menyemburkan api maupun yang tidak–kesemuanya tunduk kepada kehendak Allah yang menetapkan hukum-hukum tersebut? Wallahu a’lam.

Selanjutnya para ulama yang menetapkan makna kalimat-kalimat di atas dalam pengertian hakikinya berbeda pendapat menyangkut kemampuan mencuri pendengaran yang dilakukan oleh para jin, apakah hingga kini mereka masih dapat melakukannya atau tidak lagi. Yang menafikkan berpegang kepada firman Allah, “Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar.” (Asy-Syu’ara: 223). Sedangkan yang berpendapat masih dapat mendengarkan walau dengan sangat terbatas merujuk kepada firman Allah, “Mereka menghadapkan pendengaran itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy-Syu’ara: 223).

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas mendukung pendapat yang menyatakan bahwa jin masih memiliki kemampuan mendengar berita-berita langit, tetapi kemampuan tersebut sudah sangat terbatas. Ibnu Khaldun (1332–1406) dalam Mukaddimahnya berpendapat bahwa para jin hanya terhalangi mendengar satu macam dari berita-berita langit, yaitu yang berkaitan dengan berita diutusnya Nabi saw., tidak selainnya. Atau, seperti tulis pakar tafsir Mahmud al-Alusy (1802–1854), boleh jadi juga keterhalangan itu hanya terbatas menjelang kehadiran Nabi saw., bukan sebelumnya dan bukan juga sesudah kehadiran beliau sebagai rasul.

Pekerja Berat
Alquran menguraikan anugerah Allah kepada Nabi Sulaiman a.s., antara lain melalui firman-Nya, “Dan, Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan, dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula), dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan, sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasannya) dengan izin Tuhannya. Dan, siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (Saba’: 12–13).

Dalam surah Shaad ayat 36–37 Allah berfirman, “Kemudian, Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam.”

Selanjutnya, “Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya danmengerjakan pekerjaan selain dari itu.” (Al-Anbiya’: 82).

Dari ayat-ayat di atas, diketahui bahwa jin diperintah oleh Nabi Sulaiman dan bekerja untuknya. Mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan berat yang dilukiskan oleh Alquran. Antara lain, “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam serta periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (Saba’: 13).

Alquran juga menginformasikan bahwa suatu ketika Nabi Sulaiman berkata, “Hai pembesar-pembesar! Siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya (Ratu Balqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An-Namel: 38).

Seperti diketahui bahwa Ratu Balqis ketika itu tinggal di Yaman, sedangkan Nabi Sulaiman di Baitul Maqdis (yerusalem).

“Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya, lagi dapat dipercaya.” (An-Namel: 39).

Dalam ayat ini terlihat kemampuan Ifrit, yakni jin yang cerdik. Dia menyatakan mampu membawa singgasana itu dalam waktu singkat, yakni sebelum Nabi Sulaiman beranjak pulang ke kediamannya, yang konon menurut sementara ulama ia kembali setelah berada bersama stafnya sejak pagi hingga tengah hari. Demikian kemampuan jin.

“Boleh jadi par jin telah mendahului manusia dalam menciptakan sesuatu semacam radio dan TV,” demikian tulis Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, seorang ilmuwan kontemporer dari Yordan dalam bukunya, Alam al-Jin wa asy-Syayaathiin. Ini didasarkan atas informasi Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya yang menginformasikan bahwa, “Sementara orang yang mempunyai hubungan dengan jin menyampaikan kepadanya, bahwa jin menunjukkan kepada mereka sesuatu yang mengkilap seperti air dan kaca dan menyampaikan kepada mereka berita-berita yang mereka tanyakan. Para jin itu juga menyampaikan permintaan apa yang diminta oleh sahabat-sahabat saya dan saya menjawabnya, kemudian jin menyampaikan jawaban saya kepada mereka.”

Perlu dicatat bahwa meskipun kemampuan tersebut besar, Alquran menegaskan bahwa manusia memiliki potensi yang lebih besar dan dapat diaktualkan. Ini terbaca pada lanjutan ayat di atas, “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’Maka, tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Mahamulia’.” (An-Namel: 40).

Gaib
Salah satu hal yang ditegaskan secara gamblang oleh Alquran adalah ketidakmampuan jin mengetahui yang gaib. Walaupun sejak dahulu bahkan hingga kini ada yang menduga bahwa jin dapat mengetahui yang gaib, sehingga ada orang-orang yang sengaja menemui “siapa yang diduganya pandai/orang pintar” atau yang diduganya mempunyai hubungan dengan jin untuk memperoleh informasi.

Memang, boleh jadi jin mengetahui lebih banyak dari manusia karena kemampuannya mengarungi angkasa, atau kecepatannya bergerak. Boleh jagi dia mengetahui sesuatu yang terjadi pada masa lalu dan kini yang tidak diketahui manusia tertentu, tetapi ini tidak berarti ia mengetahui yang gaib, karena hal tersebut telah diketahui sebelumnya oleh manusia tertentu. Burung rajawali memiliki mata yang sangat tajam, sehingga dari ketinggian ia dapat melihat dan mengetahui adanya sesuatu yang tidak dilihat atau diketahui manusia, walaupun sesuatu itu berada sangat dekat dengan manusia. Kemampuan burung itu melihat dan mengetahui tidak menjadikan kita berkata bahwa burung rajawali mengetahui yang gaib.

Jika demikian, boleh jadi sesekali ada informasi jin yang benar, karena satu dan lain hal, tetapi ini tidak mengurangi sedikit pun prinsip dasar yang dikemukakan di atas, yakni bahwa jin tidak mengetahui yang gaib. Apakah jika Anda mendengar suatu berita melalui satelit, yang tidak didengr oleh orang lain, kemudian Anda memberitakannya bahwa Anda dapat mengetahui yang gaib? Dengan demikian, jika ada orang bertanya, bukankah ada paranormal yang mengetahu keadaan orang padahal orang tersebut belum menceritakannya? Maka, hal demikian mudah untuk dijelaskan. Ketika seseorang datang kepada dukun atau paranormal, ada jin yang meyertainya. Ketika orang tersebut bertanya, maka jin yang menyertai orang tersebut yang sudah mengerti keadaannya berpindah ke dukun atau paranormal untuk membisikkan ke dalam hatinya (dengan bisikkan hati, sehinga hati cenderung mengungkapkan sesuatu atas dasar pertanyaannya itu, yang hal itu berasal dari jin). Ketika dukun atau paranormal itu berbicara, ternyata sesuai dengan kenyataan. Maka, membuat orang yang datang itu mempercayainya.

Hal tersebut di atas dengan sangat jelas diterangkan dengan adanya informasi sebagai berikut. Ibn Abi Daud meriwayatkan dari Al-Muthallib bin Abdullah, bahwa Umar bin Khattab r.a. mengingat perempuan dalam hatinya dan ia tidak mengabarkan kepada seorang pun. Lalu, seorang laki-laki datang padanya dan berkata, “Kamu mengingat seorang wanita. Ia cantik dan mulia, berada di rumah yang baik.” Lalu, Umar r.a. berkata, “Siapa yang mengatakan ini kepadamu?” Ia menjawab, “Manusia memperbincangkannya.: Kata Umar r.a., “Demi Allah, aku tidak mengabarkan hal ini kepada seorang pun, dari mana mereka tahu?” Kemudian ia berkata, “Ya, aku tahu. Khannas (jin) yang mengeluarkannya.”

Dari riwayat di atas bisa diterangkan bahwa ternyata jin yang tadinya berada di dalam diri Umar bin Khattab r.a. yang kemudian mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, kemudian keluar dan memberitakannya kepada pihak lain. Pihak lain kemudian menyebarkannya kepada orang-orang, maka tersebarlah berita itu.

Ibn Abi Daud meriwayatkan dari Abi al-Jauza, ia berkata, “Aku telah menalak istriku dan jiwaku berbisik pada diriku agar aku rujuk (kembali) kepadanya pada hari Jumat. Aku tidak mengabarkan hal ini kepada seorang pun. Lalu, tiba-tiba istriku berkata kepadaku. “Kamu datang ingin kembali kepadaku hari Jumat. Aku berkata, “Berita ini tidak pernah aku ceritakan kepada seorang pun … sampai aku perkataan Ibn Abbas bahwa bisikan seorang akan mengabarkan segala bisikan yang ada pada orang lain, lalu mereka menyebarkan pembicaraan itu.”

Ibn Abi Daud meriwayatkan dari Al-Hajjaj bin Yusuf bahwa ia datang dengan seorang yang dituduh sebagai tukang sihir, lalu ia bertanya, “Apakah kamu seorang penyihir?”
Ia menjawab, “Bukan.”
Kemudian, ia mengambil segumpal kerikil dan menghitungnya, lalu berkata kepadanya, “Berapa jumlah kerikil di tanganku?”
Ia mengatakan, “Jumlahnya sekian … sekian …,” lalu ia melemparkannya.
Selanjutnya ia mengambil kerikil yang lain tanpa menghitungnya dan berkata, “Berapa kerikil yang ada padaku?”
Lelaki itu menjawab, “Tidak tahu.”
Al-Hajjaj berkata, “Bagaimana Anda mengetahui yang pertama, tetapi tidak tahu jumlah yang kedua?”
Ia menjawab, “Yang pertama engkau mengetahuinya sehingga bisikanmu mengetahuinya juga. Lalu, bisikanmu mengabarkan kepada bisikanku. Sedangkan yang kedua kamu tidak tahu, sehingga bisikanmu juga tidak mengetahuinya, maka ia tidak memberitahukan kepada bisikanku, karena itu aku tidak mengetahuinya.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setan berada dalam diri manusia bagaikan aliran darah, dan aku khawatir itu mengotori hati kalian.” (HR Bukhari). Ibn Aqil berkata, “Jika ditanya, bagaimana itu bisikan dari setan dan bagaimana ia sampai ke dalam hati, maka dikatakan ia berbentuk pembicaraan tersembunyi yang dicenderungi oleh jiwa dan watak manusia.”

Dengan telah diketahuinya rahasia ini (mengapa dukun bisa mengetahui pikiran atau keadan orang), maka selayaknya kini tidaklah perlu mempercayainya lagi. Karena percaya kepada dukun salah satu bentuk dari perbuatan syirik. Dan, syirik adalah dosa yang sangat besar. Jika seseorang mati dalam keadaan syirik, maka dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah, dan di akhirat berada dalam kesengsaraan yang langgeng. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang semacam itu.

Referensi:
1.  Luqat al-Marjan fi al-Ahkam aj-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
2. Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan, & Malaikat dalam Al-Qur’an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, M. Quraish Shihab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s