Kepahlawanan

Banyak sekali kisah kepahlawan atau maslah sosial di lingkungna kita, hingga kita kadang sedikit sekali menaruh perhatian pada mereka. Ada sebuah kisah yang begitu dekat dengan kehidupan ini, seperti yang terjadi pada murid saya di madrasah ibtidaiyah darah madiun. Kisah ini terjadi sudah hampir 4 tahun silam. Kiah Yang terjadi pada seorang anak didik saya.

Setiap jiwa yang pernah merasakan nikmatnya iman akan “termehek-mehek”  ketika bisa menghadirkan  kejadian itu dalam ruang jiwa yang ego. Sebut saja Anshori, seorang anak kelas 5 dengan adik bernama Diana dan seorang lagi yang masih balita bernama Ubay. Ayah mereka dahulu seorang muslim yang baik dengan manhaj dakwah “Jama’ah Tablig” yang suka kuruj keluar selama 45 hari. Betapa tawaduk keluarganya, hingga pada sebuah episode cerita, semua hartanya entah kemana sedikit-demi sedikit habis, tinggal sepetak tanah dengan rumah jelek menjadi tempat berlindung. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin mengekspos masalah dakwah yang dijalankan oleh Ayah Anshor ini, mungkin dengan bijak saya akan memfokuskan tulisan ini pada sisi lain akan keadaan anak-anak mereka. Singkat cerita Ayah Anshor ini mengalami tekanan yang sangat amat, hingga dia seperti orang stress dengan kebingungan yang teramat sangat. Mungkin juga karena hartanya telah raib, semua yang dipunyai telah habis sedang tanggungan pada keluarganya cukup banyak.

Pada keadaan itu ibunya harus bekerja sebisanya, mencuci, menjadi buruh tani di desa hingga sampai pergi merantau kenegeri orang menjadi TKW. Anshor  dan Diana masih kelas 5 dengan frekuensi kehadiran yang sangat mengecewakan. Kasus ini menjadi perhatian para guru di Madrasah ini. Ada yang salah dalam keluarga mereka. Suatu hari Kepala sekolah dan komite datang ke kelurga mereka, melihat rumah dengan bau yang sangat jorok dan keadaan yang tidak begitu menyenangkan, mereka masuk, berdialog dan melihat sendiri keadaan keluarga itu. Merekapun pulang dengan memberi bantuan seadanya dengan sejuta PR bagi Sekolah terhadap anak didiknya. Hari berikutnya Anshor tidak terlihat di sekolah, begitu pula Diana. Dua orang anak ini entah kemana, tidak ada temannya yang mengetahuinya. Hari berikutnya mereka hadir, dengan wajah ngantuk dan tidak terawat, aku menyebutnya seperti tukang ojek yang suka begadang malam. Saya  mencoba berdialog dengan Diana kecil, bertanya tentang ketidak hadirannya, tentang rasa kantuk yang teramat sangat.

“Kemarin kulo taksih belonjo pak, masak kangge adik”. Saya tak bisa berkata lagi, hanya  senyum kecil, yang mungkin bagi Diana senyum itu bukan sebuah solusi. Atau ketika dia mau berteriak dan menerobos rasa kesungkanan maka dia berkata, anda Cuma banyak tanya, saya tidak butuh itu, saya butuh makan dan utuh keluarga saya. Tapi Diana kecil hanya terdiam, asik dengan bolpoin dan coretan tidak beraturan, seperti gundahnya hatinya, seperti kalutnya pikiran seorang anak kecil, yang harus ikut menaggung “dosa” entah siapa.

Saya seharusnya bisa merasakan kantuk itu, merasakan lapar itu, nyamuk disetiap malamnya, dan bau mual kumuh rumahnya. Yang setiap kali Diana harus rela pergi utang beras ke tetangga, memasak untuk adiknya yang balita, ngemong, merawatnya. Dan disetiap absen yang mengisi buku presensi kelas 5 maka nama Diana selalu berderet diangka pertama untuk ketidak hadiran. Harusnya saya menjadi lebih faham dan  saya harus bunuh diri kelas, untuk menghilangkan jarak sense of crisis ini, untuk menjebol pertahanan benteng ego ini, untuk men-deaktive-kan proteksi diri dari rasa malas dan pembiaran. Atau paling tidak memberi ruang napas pada Diana, untuk presensi, untuk nilai disetiap Ujian Blok, atau hanya sekedar memberi rukshah pada PR-PR nya yang tidak sempat dia kerjakan.

Beberapa minggu kemudian, terdengar berita Ayah Diana meninggal, guru-guru di Madrasah ini sangat prihatin, hanya bantuan dan kunjungan duka cita yang ikut mereduksinya. Beberapa tetangga ikut berkabung, sedangkan ibunya masih diluar negeri, kakak sulungnya yang sudah remaja entah kemana. Diana diasuh familinya, begitu juga dengan Anshori, sedangkan si kecil diasuh terpisah juga. Begitu terkoyak dan berkeping kesatuan hati itu. Dan episode berikutnya Diana sempat dibawa ke Jakarta oleh seorang famili jauh, entah apa yang terjadi, setengah tahun kemudian dia kembali, dengan tanpa perubahan yang berarti. Bukan disekolahkan dengan baik, malah dipekerjakan sebagai tenaga kerja di tokonya. Diana yang kecil, diana yang butuh Ibu dalam hidupnya, yang bisa bercerita saat dia sedih, yang bisa mendekapnya ketika hatinya gundah. Diana yang berbeda dengan teman-temannya berjalan beriringan bersalaman dengan guru-guru setelah do’a dimulainya belajar di Madrasah ini. Itu hari pertama aku melihat Diana kembali, mengulang kelas 5 dan memperbaiki hidupnya di Daerah, bersama familinya, yang tentu tidak sehangat pelukan di pangkuan ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s