Cerpen : Senyum Simbok Semanis Coklat

 

Malam ini aku akan tidur agak malam, menunggu simbok datang. PR sudah selesai dan buku untuk pelajaran besok sudah siap di tas. Aku buka lagi hasil ujian bahasa Indonesia siang tadi. Ingin rasanya menunjukkan pada simbok, dari siang simbok belum pulang. Malam ini mungkin sampai jam 10 malam simbok datang. Aku ambil air wudhu, isya kali ini tidak tepat waktu, mungkin jika bapak masih ada pasti akan marah, saat dahulu mengetahui Mas Maman telat salah isya karena begadang didepan rumah, bapak dengan cemeti kecilnya menghardik Mas Maman. Rasanya hari itu baru aja terjadi, bayangan bapak yang dulu gagah masih sempat hinggap dibenakku.

Ingin rasanya melamun, saat digendong bapak, saat bapak pulang dari warung, membawa gorengan untukku, dan Mas Maman. Dan ketika bapak pulang kondangan selalu menyisihkan snack dan beberapa daging hanya buatku. “abot anak opo abot telak” jawab bapak selalu abot anak. Tapi kini tinggal anganku yang membawa kisah itu diruang nyata serba kekurangan.

Hanya simbok yang bekerja untuk kami. Mas Maman merantau ke Jakarta, entah kapan pulangnya, tak ada kabar tak ada kiriman apapun, sempat dahulu sms ke temanya, untuk disampaikan pada kami, jika gajinya sebagai buruh di pasar hanya cukup untuk kebutuhan hidupnya. “ini sms dari mas mu Ni…” Kang jono memperlihatkan HP layar hitam putih dengan chasing yang merah mencolok.

“ngesakne masku yo kang… aku kangen”. Jono melihatku sejenak, kemudian seperti tidak pernah mau mengerti keadaan hatiku.

“yo.. kabeh uwong due masalah Ni…, sing penting tetep usaha, jo dianggep nek neng kene ae bakal sugih? Tetep kere koyo aku Ni…”

Kemudian kang Jono pergi meninggalkanku. Aku tak peduli kata kang Jono, yang penting bagiku, apapun keadaan kami, tetap kumpul dan jadi satu, maka kami akan kuat.

Sebentar lagi simbok pulang. Aku masih memgang hasil ujian Bahasa Indonesia, bu Titin memberiku nilai terbaik dalam ujian ini, hamper 99% betul semua. Simbok pasti senang melihatnya, seperti saat tadi siang Rani menunjukkan hasil ujiannya pada mamanya, walau satu tingkat dibawahku, tapi senyum mama Rani seperti batre 100 watt memberi daya semangat luar biasa. Dan tentu hadiah ciuman dan beberapa coklat didapatkannya.

“Assalamu’alaikum..” simbok mngetuak pintu. “Wa’alaikumsalam mbok… sampun mantuk to mbok..”

Simbok membawa berberapa bungkusan kecil untukku. “Iyo.. iki ndang di pangan”.

Aku membuka bungkusan dan mendapati beberapa makanan kecil dan nasi lauk daging kesukaanku. Simbok bekerja sebagai tukang masak nasi di tempat orang punya hajat. Gaji simbok tidak banyak, dia dihitung harian, jika tamunya sedikit itu nafas lega buat simbok. Tapi jika banyak tamu, maka itu kerja keras tanpa ada jeda. Tiap saat harus napung, ngaru dan menanak hingga kekel nasinya. Simbok memang ahli dalam memasak nasi, tidak semua orang seperti simbok. Hasil masakan nasi simbok beda dengan kebanyakan orang, simbok punya trik dan cara memakai hati, begita katanya. Hingga nasi yang dihasilkan bisa terasa nikmat. Semua perjaungan itu tidak sia-sia, hingga bisa menyekolahkan aku sampai kelas 6 MI. bentar lagi aku SMP, semoga simbok juga masih bisa ngragati aku.

“mbok capek to…?”

“Iyo ni… jal kene pijeten pundake mbok”. Kami berbincang tentang banyak hal, tentang nilaiku yang paling bagus dan tentang rencanaku ke SMP. Mboh hanya tersenyum, semoga itu senyum bangga, walau tanpa ciuman penyemangan seperti mamanya rani, atau sebatang coklat manis dengan paduan kacang mete. Tapi senyum simbok adalah harapan ku, semanis coklat, semanis harapan tentang sebuah pendidikan yang menjadi HAK ku, HAK ku sebagai seorang anak yang merdeka. Tuhan….kabulkan tekadku, aku Ni, anak tukang masak Nasi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s