pengorbanan

daun kering

Selamat sore, braterr sekalian. Ini mimin mau laporan dari puncak Kilimanjaro.

Mengukir di atas batu lebih susah hilangnya dari pada mengukir diatas air yang hilang sepersekian detik saat itu juga. Ungkapan nenek kakek buyutku ketika memberi motivasi tentang sebuah pentingnya belajar. Hingga aku harus berfikir, jika keabadian itu ternyata bisa diraih dengan sebuah pengorbanan yang berat.  Menggoreskan tangan ke batu sangat berat dan sulit, namun keabadiannya adalah sebuah keniscahyaan dari pada rapuhnya partikel air yang terukir. Pengorbanan itu adalah cinta yang luar biasa hebatnya. Datangnya harus dengan perjuangan yang nyata dan berdarah-darah. Menjadikan cinta seperti prasasti yang kokoh terpondasi. Cinta yang datang begitu saja seperti angin yang menyejukkan saat manusia kepanasan. Tentu ego jiwa akan berkata saya menikmatinya. Tetapi sedetik kemudian angin akan berhembus lagi meninggalkan manusia yang kranjingan ketagihan cinta.

Harusnya malam itu bukan malam cinta, tapi malam penuh gejolak hati. Ternyata indahnya cinta adalah saat hati itu bisa bergejolak, jiwa yang goyah karena digedor oleh sang penggoda cinta. Tentu saja aku tidak akan panjang lebar membahas cinta dan tetek bengeknya. Yang kata temanku seumuran kita ini bicara cinta seperti bicara tai kucing rasa golang-galing. Bentuknya gak jelas tapi dimakan mengenyangkan.

Walah… ya gak lah….

Begini sodara-sodara. Saya coba  mengarahkan anda semua ini pada sebuah fenomena (jan tenan pokan iki) yang jelas  setiap yang berarti butuh pengorbanan. Contohnya gini bray (sok gaul panggil bray, glodak… senggol jagak listrik sirahku). Diawal penisbatan sebuah mengukir diatas batu lebih abadi dari pada diatas air. Itu pengorbanan. Meminang pujaan hati dengan berdarah-darah. Loh.. maksudnya apa saling bunuh antara rival demi si cantik clara? Atau seperti melewati prara pengawal sang putri yang menolak lamran kamu? Hingga terjadi perkelahian yang sengit sampai darah tertumpah? Yang jelas itu semua cerita jaman dahulu yang aduhai. Masih ingat ketika sang raja ketika mencari menantu selalu bilang, akan saya adakan sayembara, pemenangnya akan saya nikahkan dengan putri saya. Wuih… ajib…..

Ok-ok… kembali pada alur awal ya, kebanyakan ngelantur kayak bubur ni si mimin. Intinya gini Nda..

Semua hal yang kita dapatkan dengan pengorbanan akan abadi (aku gak pingin debat soal kata abadi lo ya, filsafat, ro’yu masalah akidah.. wis…  sik yo bro, iki masalah sastra tengik mas, jadi ojo ndebat Nda…).  Jadi semua itu tidak mudah didapatkan, maka susah pula untuk hilangnya. Nek pingin suargo yo kudu rekoso ibadah, nek pingin neroko, polaho sak karepmu, moso borongo kon arep jungkir walik, arep ngombe lengo gas, arep mo limo, gak urusan to? Lah itu semua gak perlu pengorbanan. Karena yaumul jazza  gak reken iku mau.

Lah ini masalah, kadang kita tu saat berusaha dikit maka udah dapat hasil yang banyak. Pingin ini itu dengan mudah mendapatkannya. Enak dong… (trus maslah buat kamu?) Gak sih, gak masalah, jika hokum alam berkata berakit rakit kehulu berenang ketepian. Atau ketika kamu lempar pancing trus si lamberjack nyangkut dapat gedhe tu. Tapi jadi masalah ketika kita fahami, kenapa ini mudah?

Artinya saat tiba-tiba kamu minta sesuatu yang berarti trus dengan mudahnya ada orang yang memberinya, kepikiran gak sih? Kenapa dia kasih? Nah, itu yang aku maksud ternyata seorang ustadz pendiri Darul Qur’an bilang, jangan-jangan kita ini lagi di uji, di kasih mulu.. hingga lupa. Atau kata orang tua dulu tu, apa yang kita dapat tidak barokah. Naudzubillah…

Jadi intinya, kadang memang harus menunggu berminggu-minggu, bulan bahkan tahun untuk mendapatkan sebuah hasil. Berusaha, wiraswasta pengorbanan sodaqoh kok lama baliknya, kata si ustadz karena amal ibadah belum bener (instropeksi brow, lu udah bener belum, keplak sirah, plak..!).

Sebuah perjuangan juga gitu, saat mudah sekali naik keatas, kenapa mudah sekali terjungkal, kenapa ada aja hal yang merecokinya. Maka hal yang perlu kita liat adalah instropeksi. Bener juga kata seorang tokoh yang mengatakan kenapa sehabis sholat kita haruskan baca astaghfirullohaladzim, bukan baca hamdalah loh. Nah ternyata sebuah usaha itu harus ada istropeksi, hingga saat kita dapatkan, bisa kita liat ada yang salah gak ya?

Braterrr…  sekali, pernah kan brater liat orang bakar daun. Jika daun itu kering mudah sekali di bakar, tapi jika daun itu masih basah karena baru dipetik dari pohonnya susah sekali di bakar. Bahkan daun kering yang disiram air lebih mudah dibakar dari pada daun yang baru saja dipetik. Artinya kadar air yang terkadang lebih banyak daun yang baru aja dipetik. Begitu sebuah kompetensi dan hasil yang didapat. Saat hasil itu dari kita sendiri maka sebuah daya tahannya akan kuat, berbeda dengan dauh kering kerontang yang di guyur air, sebanyak apapun teteap basah yang fana.

Susahnya berusaha, berjuang untuk sebuah nama dakwah, keiklasan atau apalah julukannya perlu pengorbanan dan waktu yang lama. Ujian bukan sebuah akhir dari perjuangan. Hasil yang di dapat bukan sebuah final untuk saat ini. Kita ini baru seper sekian inci aja dalam kilo-kilo jauhnya jalan ini. Ujian yang kita timpa baru sepersekian kecilnya dari tanjakan gunung kilimanjaru.

Jadi… tetep kembali pada perjuangan dan bekerja, apapun kata orang, apapun cemoohan orang yang penting bekerja dan berusaha. Hingga letih dan keringat darah ini bisa terbayar dengan hasilnya. Ok brater, sekian laporan dari puncak Kilimanjaro selamat menikmati kopi di sore hari ditemani pujaan hati. –End–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s